Asw.
Mohon Maaf apabila ada comment-comment yang belum saya ‘reply”, karena memang saya baru kembali mengaktifkan Weblog saya, semoga silaturrahim kita tetap terjaga selanjutnya, salam utk keluarga tercinta anda…tetap semangat, tetap senyum dan Smart Work Hard with Heart….
Wassalam,
SM
Dear all (Bloggers)
My Lovely Family

Aku bersama suamiku H. Gde Sardjana, anak lelakiku yang pertama Shandy Aditya dengan istrinya Elina Rahmita Sofian dengan dua putri-putranya Cherry Zealandia Aditya dan Tsar Wiranagara Aditya serta anak bungsuku perempuan si cantik Monica Andalusia
Buku “NUJU BULANIN ALA BETAWI”
BUKU “NUJU BULANIN ALA BETAWI”, TERINSPIRASI DARI KELAHIRAN CUCU
Tiga tahun yang lalu, tepatnya 22 Juli 2008, putra sulung saya, Shandy Aditya, menyampaikan kabar gembira tentang Elina Rahmita Sofian, istrinya, yang baru saja melahirkan. Alhamdulillah, menantu dan cucu pertamaku itu dalam keadaan sehat. Proses persalinan berjalan dengan lancar. Ketika kabar gembira itu disampaikan Shandy, aku sedang tidak berada di Jakarta. Bersama rombongan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat, aku sedang dalam perjalanan dinas ke Jawa Tengah. Berbagai perasaan berkecamuk di dada sesaat setelah kabar itu aku terima. Pertama tentu saja rasa bahagia dan mensyukuri karunia dari Allah SWT ini sebagai anugerah yang tiada ternilai harganya. Nyaris tetes airmata ketika kemudian aku sadar bahwa dalam usia belum genap 50 tahun, aku sudah menjadi Oma dan suamiku pun jadi Opa. Bahagia sekali rasanya. Saat itu juga, ingin aku terbang ke New Zealand, menemui Shandy, Elina dan terutama sekali ingin segera menimang dan memeluk cucuku yang baru lahir itu. Secantik siapakah dia? ‘’Secantik Omanya,’’ kata Shandy membahagiakanku….
Dibalik kebahagiaan yang sulit diuraikan dengan kata-kata, aku pun merasa sedih karena sampai melahirkan, Elina belum menjalani ritual Nuju Bulanin sebagaimana layaknya perempuan Betawi yang akan melahirkan anak pertama mereka. Bukan aku lupa atau mengabaikan adat istiadat yang harus dilaksanakan, dijaga dan dipelihara sebagai warisan budaya Betawi. Tapi lebih pada persoalan waktu dan tempat bagi Elina dan juga aku untuk menjalankan tradisi tersebut. Sejak mengandung hingga melahirkan, Elina dan Shandy tinggal di New Zealand. Ketika itu, anak dan menantu saya ini sedang menyelesaikan S2 mereka di Auckland University Of Technology. Inilah yang membuat mereka saat itu belum bisa kembali ke Tanah Air. Sedangkan aku sendiri, baru beberapa bulan menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat. Tidak elok rasanya baru dilantik sudah mengajukan cuti untuk menengok anak dan menantu. Selain kurang bagus, aku juga tidak mau masyarakat salah duga mentang-mentang jadi walikota lantas begitu gampang ‘’jalan-jalan’’ ke luar negeri.
Buku “PERNAK PERNIK ABANG & NONE JAKARTA”
Setelah buku “Nujuh Bulanin ala Betawi”, kini lahir buku
tentang Pernak Pernik Abang & None Jakarta. Penerbitan
kedua bukuku ini hanya dalam rentang waktu sekitar satu
bulan. Buku Nuju Bulanin ala Betawi, terbit pada 22 Juni
2011 sementara Pernak Pernik Abang & None Jakarta
terbit akhir Juli 2011.
Kedua buku ini kuanggap menarik karena sarat dengan informasi yang memang perlu dibukukan.
Sebagai Penyusun Buku ini juga aku menulis tentang diriku sebagai perempuan Betawi yang jabatanku saat ini
sebagai Asisten Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta yang
sebelumnya adalah Walikota Jakarta Pusat. Hingga saat ini, aku masih aktif mengajar Pascasarjana di berbagai Universitas di Jakarta karena memang berkat dorongan luar biasa dari suamiku tercinta aku bisa menyandang Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta.
Aku dikaruniai putra dan putri; Shandy Aditya, BIB. MPBS dan Monica Andalusia, S.Ked. Dari putra pertamanya yang menikah dengan Elina Rahmita Sofian, S. Hum, Grad. Dip., aku telah dikaruniai sepasang cucu bernama Cherry Zealandia Aditya yang lahir di New Zealand pada tanggal 22 Juli 2008 dan Tsar Wiranagara Aditya, yang lahir di Jakarta tanggal 11 Juli 2011.
Aku adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, aku lahir di Jakarta pada 11 Oktober 1958. Papaku (alm), Letkol. (Purn) H. Dani Moerdjani. Mamaku (almarhumah) bernama Hj. Ni’mah. Keduanya Betawi tulen. Dengan demikian aku adalah mama dari dua orang anak dan oma dari dua orang cucu ini, dan suamiku adalah H.Gde Sardjana, Ing. S.E, M.M. Mereka menikah 28 tahun yang lalu, dua tahun
setelah aku dinobatkan sebagai None Jakarta 1981. “Tanpa dukungan suami, saya tak akan pernah menyusun kedua buku di luar disiplin ilmu saya ini,” sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) Pemprov DKI Jakarta, aku menerapkan prinsip bekerja tak mengenal ruang dan batas waktu, Smart Work Hard with Heart based on Religion and Regulation (2 R)
Cuci-cuci kain blacu,
abis dicuci baru dijemur
Dinanti-nanti anak cucu,
budaye Betawi jangan ampe luntur
Kebaya Sutra Jaitan Mesin,
abis dipake taro di peti
Budaye kite kudu dilestariin,
kalo bukan kite siape lagi….
Keluarga Besar Papa Letkol (Purn. TNI AD) Drs. H. Dani Moerdjani Naserin dan Mama Hj. Ni’mah Ismail
9 (sembilan) Putri dan 1 (satu) Lelaki, itulah Kel besarku, aku putri ke 3, aku bangga dengan Keluarga Besar ku yang senantiasa solid dan selalu menjaga silaturrahim diantara kita walau ditengah kesibukan kita masing masing, Alhamdulillah yaa Robb….
Walikota Jakpus Berkantor di Monas
04-02-2009 16:59
Saat seseorang menduduki posisi penting pada umumnya selalu ditafsirkan berkantor di ruangan mewah yang dilengkapi berbagai fasilitas. Namun tidak demikian dengan Walikota Jakarta Pusat, Sylviana Murni. Sejak mendapat teguran keras dari Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mantan None Jakarta ini, kini mempunyai kontor baru di sebuah tenda ukuran 3 x 6 meter di sisi barat Monas.
Namun patut dicatat, tidak selamanya orang nomor satu di Jakarta Pusat ini bakal berkantor di Monas, melainkan hanya beberapa waktu saja. Kebutuhan tempat kerja di areal Monas tidak lain untuk membuktikan keseriusan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat memperbaiki berbagai fasilitas Monas yang rusak. Seluruh perbaikan di kawasan itu ditargetkan rampung sebelum dua minggu terhitung sejak Kamis (29/1) lalu. “Sejak kemarin (Selasa-red) saya sudah berkantor di sini. Dengan berkantor di sini, saya bisa terus memantau perbaikan fasilitas Monas yang masih kurang,” kata walikota, di kantor barunya, Rabu (4/2).
Bahkan, di dalam sebuah tenda dengan fasilitas sederhana itu, Sylviana Murni tidak canggung-canggung menerima sejumlah tamu dari berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta. “Di ruang ini saya sudah kedatangan sejumlah tamu, diantaranya dari Corporate Forum For Community Depelopment (CFCD) dan dari Emosional Spiritual Quotion (ESQ),” terangnya.
Kedatangan mereka, kata walikota, bertujuan menawarkan jasa kerja sama untuk melaksanakan kegiatan bersih-bersih kawasan Monas. Kendati demikian, tidak semua tawaran itu bakal langsung diterima, melainkan akan dipelajari terlebih dahulu. “Mereka minta dijadwalkan untuk melaksanakan kegiatan bersih-bersih di areal Monas. Sebelum dijadwalkan, terlebih dahulu akan dipertimbangkan dampaknya. Jadi, tidak semua yang ditawarkan langsung kita diterima begitu saja. Kita akan lihat dulu dampaknya,” kata Sylviana Murni.
Sedangkan yang sudah diterima dan telah dijadwalkan, diantaranya kegiatan bersih-bersih oleh siswa SMP dan SMA yang akan dilaksanakan pada hari Minggu 8 Februari 2009. Dan sekaligus apel terkait penilaian program Bangun Praja (Adipura). Kemudian, pada hari Jumat, 13 Februari 2009, akan dilaksanakan senam kesegaran jasmani (SKJ) oleh para Dekel se-Jakarta Pusat dan dilanjutkan dengan kegiatan bersih-bersih Monas. Sedangkan, pada hari Minggu 15 Februari 209, akan dilaksanakan kegiatan bersih-bersih oleh para alumni ESQ 165.
Selain menerima sejumlah tamu, di dalam kantor yang berbentuk tenda berwarna putih itu, walikota juga menggelar rapat internal bersama para asisten, camat, dan sejumlah kepala suku dinas. “Ya, tadi saya habis rapat di sini,” kata Sylviana Murni, di dampingi Asisten Ekonomi dan Pembangunan Tihang Helmi.
Untuk melakukan penataan dan perbaikan sejumlah fasilitas Monas yang rusak, Sylviana Murni mengaku sudah melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat dinas, diantaranya Dinas Kebersihan DKI dan Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI. Dinas Kebersihan DKI rencananya akan menambah 200 tempat sampah, sedangkan Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI saat ini tengah memperbaiki sejumlah pedestrian dan taman yang rusak.
Jika semua fasilitas yang rusak sudah diperbaiki, walikota berjanji akan segara membuat jadwal pemeliharaan dan perawatan Monas. Dan peninjauan lokasi diwajibkan dilakukan paling lama sebulan sekali. “Modelnya, membagi tugas menjadi empat sektor sesuai dengan jumlah asisten yang ada di jajaran Pemkot Jakpus,” ungkapnya.
Masing-masing asisten akan membawahi dua kecamatan yang nantinya akan bertanggungjawab terhadap sektor yang ditugaskan. “Mereka juga akan melibatkan unsur masyarakat dalam melaksanakan kegiatan bersih-bersih Monas,” tuturnya. Ketika ditanya sampai kapan berkantor di areal Monas, Sylvi mengatakan belum menentukan batas waktunya. “Bisa dua minggu, bisa lebih, enjoy saja,” ujarnya.
Pantauan beritajakarta.com, Rabu (4/2) sejumlah fasilitas Monas yang rusak seperti pedestrian taman sedang diperbaiki sejumlah petugas. Mereka membongkar sejumlah paving block yang rusak dan menggantinya dengan yang baru termasuk menanam rumput taman di tempat-tempat yang gundul.

